![]() |
| Di antara Sudut Malam |
Di antara Sudut Malam, Di sudut tingkat atas sebuah ruko, seorang lelaki paruh baya menatap sudut kota di antara relung-relung malam yang kian menepi. Mungkin sebentar lagi, hujan akan segera turun. Sebab gumpalan awan telah berarak mendung. Tak ada lagi gemintang di langit, kecuali hanya kelam. Namun, nun jauh di seberang sana kerlap-kerlip lampu tower berwarna merah masih menyala, serupa laser di ujung senjata sniper.
Di situlah lelaki itu menepi, sembari meratapi keraguan dalam hidupnya. Atas segala takdir dan paksaan dengan alasan menjemput kebahagiaan, siapa yang tak butuh kematian manis, pikirnya. Tapi, membuat wajah-wajah pribumi menghentak kaku di bawah garis kehidupan tak wajar, sungguh bukan suatu logika. Mereka seperti kaum tertindas dalam keabadian. Lelaki itu terus memikirkan, sekumpulan imajinasi berkelebat di atas kepalanya, bahkan ia sempat ingin meloncat dari lantai paling tinggi .
Memang, selama ini yang dibayangkan olehnya adalah tentang strata kehidupan. Persoalan sosial yang kian menghimpit. Katakanlah lelaki yang bernama Basron itu, tergolong orang miskin, tapi ia menolak meminta, tak ingin direndahkan dan dikalangan orang dekatnya ia dianggap seorang lelaki sok jual hebat, begitulah kiranya. Namun, bukan tanpa alasan bahwa prinsip-prinsip dalam dirinya sudah tertanam sejak dulu, ia dianggap sifat Tuhan yang bersemanyam, seperti dalam diri Pemuka agama, Dewa, juga sekalipun Malaikat.
Gerimis mulai berinai-rinai, lelaki itu menyulut sebatang rokok. Menghembuskan jentik bara api, dan sesekali menghisapnya dalam-dalam. Hampir tak ada lagi kata di mulutnya. Malam kian menepi. Sisa rindu pada anak dan keluarganya ia simpan jauh-jauh di lubuk hati yang paling dalam. Kini, ia ingin menaklukkan kota serigala. Kota hantu yang dibangun sejak zaman orde baru,---kota yang baru berkembang setelah perang melanda. Yang diingat lelaki itu kota itu pernah disinggahinya dua puluh tahun yang lalu, tempat mengalirnya mani-mani lelaki haramjadah di atas perut wanita malam setelah suaminya mati kelaparan.
Terus terang, lelaki itu tak pernah berharap, tak ingin mengemis atas kesusahan dalam hidupnya di kota itu. Empat puluh enam kota sudah pernah ditaklukkannya dengan cara yang kejam. Tanpa tidur malam, menyusuri lorong-lorong gelap bersama waria, dan harland yang membutuhkan pertolongan, tapi memberi pertolongan. Hidup baginya adalah tentang ketiadaan, bukan atas dasar kenyataan yang dibangun pengikut iluminiator atas landasan kapitalisme. Yang ia tahu tentang bagaimana berbagi kasih. "Bangsat, kejam sekali!" Pikirnya.
Kemelaratan semakin merajana di mana-mana. Lelaki itu menoleh, mendengar suara angin membawa teriakan para penjilat. Penjilat di atas sepatu-sepatu mengkilap dan dasi berbaju. Menjilat di atas perut para penguasa. Mereka tidak paham, bahwa mereka adalah anak Mami yang kehilangan gairah seksual. Lalu ibunya menjadi bayangan cermin setelah kehilangan sang bapak. Seterusnya bagian daripada pelarian telah menjadi bentuk kehidupan yang nyata. Kebutaan terhadap yang nisbi. Batin lelaki itu terus bergejolak, bermacam suara serupa bisikan kian menjalar dalam otaknya. Akhirnya ia berdesis padanya dirinya sendiri, kapan ia bisa mengipas dirinya dengan lembaran rupiah, sedangkan bayangan kertas berharga itu dalam matanya berkelebat lipatan ratusan ribu, itukah kewajiban. Terkadang kita terlalu bertingkat berhakikat. Ah, malam memang aneh, bila sedang gerimis. Kau pembong besar, kata seorang wanita di balik daun saat lelaki itu turun perlahan.
postingan ini telah di publikan di steemit.com yang bisa dilihat pada link berikut
