Setiap Menjelang Tengah Malam - Tabib Info

27/10/18

Setiap Menjelang Tengah Malam

Setiap Menjelang Tengah Malam
Setiap Menjelang Tengah Malam
Setiap menjelang tengah malam, ketika aku sedang berjalan di antara lorong sempit, di sudut-sudut gang ruko milik warga Tiong Hoa. Sepi menikung dalam relung-relung malam. Hanya jelaga kepastian yang dapat kutatap.
Malam itu pada saat aku sedang melangkah jarak, tiba-tiba seorang anak kecil menyapa, "Hei melatang njan katroeh lom." Ungkapnya dengan bahasa yang kental. Dan sungguh anak kecil itu adalah teman saya. Kami berkenalan di tempat kerjaku.
Di malam yang lain, Ia selalu menungguku datang tepat waktu di gang itu. Suatu ketika, Dia datang bersama temannya seorang pengemis. Dia bukan sengaja ingin membeli sesuatu, namun kedatangannya seperti perintah takdir padaku. "Bang ada bola yang lima puluh ribu harganya bang?" tanya si anak kecil itu. Aku tercenung sesaat.
Temannya itu cacat pasi dan seolah sangat akrab denganku begitu kami berkenalan. Ia langsung menyapaku bahagia dan kami saling berbicara panjang lebar. Si anak kecil itu wajahnya polos, sepolos embun turun di tengah malam membasahi pucuk-pucuk bunga yang sedang layu. "Tidak ada bola yang lima puluh ribu," kataku. Si anak kecil itu memutar beberapa kali sambil melihat-lihat barang yang dipajang.
Kemudian, kami terus saling bicara. Tiba-tiba entah bagaimana sebuah ide muncul di benakku, "Ohya, saya akan kasih kamu satu benda. Seruling, ya seruling, nanti sambil singgah di pintu toko, sebelum dapat sedekah, kalian meniup seruling dulu," kataku "biar dikasih banyak ya"
Si anak kecil itu menyambut gembira ideku itu.
Setelah mengambil seruling itu, si anak kecil dan temannya mendayung sepeda mereka pamit. Aku menatap mereka dengan makna perpisahan. Si anak itu diboncengin oleh temannya. Si anak kecil penuh ceria meniup seruling yang dibelikannya dengan harga yang murah dariku sepanjang jalan mereka berlalu, sejauh mataku memandang mereka penuh perhatian. Dan malam pun asing berlalu begitu saja.
Di seputaran kota, si anak kecil itu setiap hari mulai meniup seruling, di lampu-lampu merah, di persimpangan jalan sambil mengutip sedekah membelas kasih. Ia datang bersama temannya dari satu pintu toko ke pintu toko yang lain.
Kami tak lagi bertemu. Aku hanya mendengar kabar bahwa seruling itu dipakai mereka, entah dengan nyanyian apalagi. Yang katahu itulah nyanyian debu-debu jalanan. Lagu semesta, yang pernah dititahkan malam terhadap kesunyian.
Di lorong itu, si anak kecil memanggilku, "Hei melatang," aku tak menjawab. Sebab seruling kebosonan ada di tangannya. Si temannya suka mendengar radio. Radio merupakan pelengkap kehidupan bagi orang menderita di kota kami.
Di negara maju, radio adalah kehidupan yang sempurna. Di negeri kami radio dan antena dengan tali kabel listrik adalah bagian yang tak terpisahkan untuk mendengar kabar tentang pejabat korupsi. Tentang reklame penjualan racun hama wereng, tentang obat penyakit asam lambung.
Begitulah setiap malam, ketika aku pulang sambil berjalan kaki menuju tempat tinggalku, si anak kecil dan temannya itu selalu menungguku, dan mereka memanggilku dengan sebutan yang sama, "Hei melatang," aku hanya diam saja. Yang kutahu, dunia itu tidak ada perbedaan, kecuali bagi mereka yang sedang mencari kesempurnaan dalam hidupnya.

Share with your friends

1 komentar

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done