Polio, atau poliomyelitis, adalah penyakit virus yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Virus ini menyebar melalui air dan makanan yang terkontaminasi dan menginfeksi sistem saraf seperti sumsum tulang belakang dan otak.
Sejarah polio bisa ditemukan sejak tahun 1789 dan sering menjadi epidemi pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Penyakit ini sangat mengerikan karena mempengaruhi anak-anak dan muda-mudi, dan seringkali menyebabkan kelumpuhan yang permanen.
Pada tahun 1916, terjadi wabah polio besar-besaran di New York, yang mempengaruhi lebih dari 9.000 orang dan membunuh merata-rata 2.343 orang. Pada tahun 1955, Dr. Jonas Salk mengembangkan vaksin polio pertama yang efektif dan mulai diterapkan secara luas pada tahun 1957.
Vaksinasi terus berlanjut seiring dengan berkembangnya teknologi, dan sekarang ada dua jenis vaksin polio yang tersedia, yaitu vaksin polio inaktif (IPV) dan vaksin polio oral (OPV). IPV diberikan melalui suntikan dan mengandung virus mati yang tidak dapat menyebar dan menyebabkan penyakit. OPV, sebaliknya, mengandung virus hidup yang dicuci, dan diberikan melalui mulut.
Vaksinasi polio sangat penting untuk mencegah penyebaran virus dan memerangi penyakit ini. Dalam beberapa dekade terakhir, kampanye vaksinasi polio telah sangat efektif dalam mengurangi jumlah kasus polio, dan hingga 2021, polio hanya ditemukan di tiga negara: Pakistan, Afghanistan, dan Nigeria.
Namun, masih ada tantangan dalam memberantas polio. Beberapa komunitas masih memiliki ketidakpercayaan terhadap vaksin dan menolak untuk memberikan vaksinasi pada anak-anak mereka, yang menyebabkan masih ada beberapa kasus yang terjadi. Ada juga masalah logistik dalam memastikan vaksinasi tersedia dan diterima oleh semua anak di daerah terpencil dan kurang terjangkau.
Walaupun demikian, komitmen untuk memberantas polio terus berlanjut, dan beberapa organisasi, seperti WHO dan UNICEF, bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat untuk memastikan vaksinasi tersedia dan diterima oleh semua anak di seluruh dunia.
